Kerusakan hutan yang terjadi di berbagai negara di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penebangan liar atau illegal logging, pengalihan fungsi lahan dan eksploitasi hutan yang berlebihan, masih marak dilakukan diberbagai belahan dunia.
Di Indonesia sendiri, laju kerusakan hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun dari total luas hutan yaitu seluas 120 juta hektar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dari total luas hutan tersebut, sekitar 57 sampai 60 juta hektar sudah mengalami degradasi dan kerusakan. Sehingga sekarang ini Indonesia hanya memiliki hutan yang dalam keadaan baik kira-kira seluas 50% dari total luas yang ada. Kondisi semacam ini apabila tidak disikapi dengan arif dan segera dilakukan upaya-upaya penyelamatan oleh pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia maka dikhawatirkan hutan Indonesia akan semakin habis.
Padahal jika kita cermati, dampak penebangan hutan baik hutan darat maupun hutan mangrove secara berlebihan tidak hanya mengakibatkan berkurangnnya daerah resapan air, abrasi, dan bencana alam seperti erosi dan banjir tetapi juga mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi dan pembentukan gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen (O2) yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Selain mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi dan pembentukan gas kabon dioksida dan oksigen, penebangan hutan secara berlebihan juga dapat mengakibatkan pemanasan global atau global warming. global warming yaitu proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Dan kenapa global warming harus dicegah? karena akan berpengaruh terhadap meningkatnya intensitas fenomena cuaca ekstrim. Tidak hanya itu pemanasan global juga bisa menyebakan kerusakan hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.
Oleh karena itu, pemerintah harus terus menggalakkan reboisasi hutan, baik hutan darat maupun hutan mangrove dengan slogan one men one tree. Reboisasi adalah penanaman pohon dalam kawasan hutan yang rusak atau gundul dan juga penanaman pohon di luar kawasan hutan. Reboisasi atau penghijauan memperluas tajuk pohon sehingga intersepsi hujan dan evapotranspirasi bertambah sehingga reboisasi menambah laju peresapan air ke dalam tanah dan mengurangi volume air yang mengalir di atas permukaan tanah. Dengan demikian, walaupun jumlah air per tahunnya berkurang, bahaya banjir dalam musim hujan dapat berkurang dan bahaya kekurangan air dalam musim kemarau berkurang pula serta laju erosi pun juga turun.
Usaha reboisasi hutan tidak luput harus mendapatkan dukungan dari masyarakat. Untuk itu pemerintah harus meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan membuka kegiatan wisata alam atau ecotourism sehingga masyarakat dapat melihat, menikmati dan berinteraksi dengan lingkungan secara langsung dan dapat melihat secara langsung manfaat dari melestarikan alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar